BELAJAR PUBLIC SPEAKING
Komunikasi Bukan Sekadar Berbicara: Mendengarkan, Menulis, Berbicara, dan Membaca
Komunikasi tidak hanya tentang berbicara. Ada empat aktivitas utama dalam komunikasi: mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Keempatnya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita, baik dalam kehidupan personal maupun profesional.
Ketika seseorang berbicara kepada kita, sesungguhnya kita sedang melakukan komunikasi melalui proses mendengarkan. Ketika kita menyampaikan gagasan secara langsung, kita melakukan komunikasi melalui berbicara. Ketika kita memahami pesan yang disampaikan melalui sebuah tulisan, kita sedang membaca. Dan ketika kita menyampaikan pesan melalui WhatsApp, email, surat, atau media tulisan lainnya, kita sedang menulis.
Jadi, komunikasi bukan sekadar aktivitas mengeluarkan kata-kata.
Komunikasi adalah proses pertukaran pesan dari pengirim kepada penerima, melalui saluran tertentu, dengan tujuan agar pesan tersebut dapat diterima dan dipahami sebagaimana yang dimaksudkan oleh pengirim.
Menariknya, keempat aktivitas tersebut juga dapat hadir dalam bentuk verbal maupun nonverbal. Berbicara bukan hanya tentang kata-kata, tetapi juga intonasi dan cara menyampaikannya. Mendengarkan bukan hanya tentang mendengar suara, tetapi juga memberikan perhatian. Membaca bukan hanya mengenali rangkaian kata, tetapi memahami makna yang ingin disampaikan. Begitu pula menulis bukan sekadar menyusun kalimat, tetapi memilih kata dan cara penyampaian agar pesan dapat dipahami dengan tepat.
Karena itu, kemampuan berkomunikasi sesungguhnya bukan hanya tentang seberapa baik kita berbicara, tetapi juga tentang seberapa baik kita mendengarkan, membaca, dan menulis.
Bahkan, terkadang sebuah senyuman, tatapan, anggukan, atau gerakan menoleh dapat menjadi pesan yang jauh lebih kuat daripada kata-kata.
Maka, sebelum bertanya “Apa yang harus saya katakan?”, mungkin ada pertanyaan yang lebih penting:
“Apakah saya sudah benar-benar mendengarkan?”
Karena komunikasi yang efektif bukan hanya tentang menyampaikan pesan, tetapi juga tentang memastikan pesan itu diterima, dipahami, dan memberikan respons yang sesuai.
Komunikasi adalah Aksi dan Reaksi
Pernahkah kita menyapa seseorang dengan,
“Selamat pagi.”
Lalu orang tersebut menjawab dengan ramah,
“Selamat pagi.”
Sederhana, bukan?
Sekarang bayangkan kita menyapa dengan suara yang datar, wajah masam, atau bahkan tanpa menatap orang tersebut. Respons yang kita terima bisa saja berbeda.
Komunikasi sering kali bekerja seperti aksi dan reaksi.
Energi yang kita hadirkan dapat memengaruhi energi yang kembali kepada kita.
Ketika kita berbicara dengan lembut, orang cenderung lebih nyaman merespons dengan kelembutan. Ketika kita menunjukkan perhatian, orang merasa dihargai. Sebaliknya, ketika pesan disampaikan dengan nada tinggi, wajah tidak bersahabat, atau bahasa tubuh yang tertutup, penerima pesan dapat menangkap makna yang berbeda meskipun kata-katanya sebenarnya benar.
Maka, pertanyaannya bukan hanya:
“Apa yang saya sampaikan?”
Tetapi juga:
“Energi seperti apa yang saya bawa ketika menyampaikannya?”
Mendengarkan Juga Bentuk Komunikasi
Sering kali kita menganggap orang yang paling pandai berkomunikasi adalah orang yang paling pandai berbicara.
Padahal, kemampuan mendengarkan justru merupakan bagian penting dari komunikasi.
Ketika seseorang berbicara kepada kita, apakah kita benar-benar mendengarkan?
Ataukah kita sibuk memikirkan jawaban?
Apakah kita menatap lawan bicara?
Apakah kita menoleh ketika seseorang memanggil?
Apakah kita memberikan respons melalui ekspresi wajah dan bahasa tubuh?
Bahkan menoleh dapat menjadi pesan.
Sebuah anggukan kecil dapat berarti, “Saya mendengarkan.”
Sebuah tatapan dapat berarti, “Saya memperhatikan.”
Sebuah senyuman dapat berarti, “Saya menerima kehadiranmu.”
Dan sebaliknya, tidak menoleh, terus melihat gawai, atau menunjukkan ekspresi tidak tertarik juga merupakan pesan yang dapat dibaca oleh orang lain.
Jadi, komunikasi tidak selalu membutuhkan suara.
Kadang-kadang, diam pun sedang berkomunikasi.
Personal Life dan Professional Life
Dalam kehidupan sehari-hari, kita menjalani berbagai konteks. Ada kehidupan pribadi dan ada kehidupan profesional.
Di rumah, kita mungkin menjadi diri kita yang paling apa adanya. Kepada orang tua kita bisa menjadi manja. Kepada pasangan kita bisa berbicara dengan gaya yang berbeda. Kepada sahabat, kita mungkin lebih santai dan terbuka.
Namun ketika berada di lingkungan profesional, cara kita berkomunikasi perlu menyesuaikan konteks.
Bukan berarti kita menjadi orang lain.
Justru kita sedang belajar bahwa komunikasi membutuhkan kesadaran terhadap siapa penerima pesan, apa konteksnya, apa tujuannya, dan saluran apa yang paling tepat digunakan.
Karena pesan yang sama belum tentu menghasilkan respons yang sama jika disampaikan dengan cara, waktu, atau saluran yang berbeda.
Konsistensi antara Ucapan dan Tulisan
Ada satu hal sederhana yang menarik untuk direnungkan.
Seseorang mungkin berkata:
“Selamat pagi, Ibu.”
Dengan suara yang ramah dan penuh perhatian.
Tetapi beberapa saat kemudian, ia mengirim pesan tertulis yang sangat singkat, kaku, bahkan terkesan tidak menghargai penerima.
Apakah komunikasi tersebut konsisten?
Belum tentu.
Kita perlu menyadari bahwa personal branding dan profesionalisme juga terbentuk dari konsistensi komunikasi kita, baik ketika berbicara maupun ketika menulis.
Cara kita berbicara, mendengarkan, membaca, memahami pesan, membalas pesan, menulis email, hingga merespons WhatsApp, semuanya ikut membentuk bagaimana orang lain memaknai diri kita.
Jadi, Komunikasi Itu Mudah?
Secara teori, mungkin iya.
Kita hanya perlu mengirim pesan dari pengirim kepada penerima.
Tetapi dalam praktiknya, komunikasi bisa menjadi sangat kompleks karena di dalamnya ada manusia dengan latar belakang, pengalaman, emosi, persepsi, dan cara memahami pesan yang berbeda.
Karena itu, komunikasi bukan sekadar mengirim pesan.
Komunikasi adalah tentang memastikan bahwa pesan yang kita maksud dapat dipahami sebagaimana yang kita harapkan oleh penerima.
Dan untuk membuat proses pertukaran pesan itu berlangsung efektif, tentu dibutuhkan saluran yang tepat sebagai media atau alat penyampai pesan.
Maka, respons yang kita dapatkan pun akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana kita memilih kata, saluran, waktu, nada, ekspresi, dan energi ketika menyampaikan pesan.
Pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan:
“Apakah saya sudah berbicara?”
Tetapi:
“Apakah pesan saya sudah tersampaikan?”
Dan lebih jauh lagi:
“Apakah cara saya berkomunikasi membuat orang lain merasa didengar, dihargai, dan dipahami?”
Karena komunikasi yang baik bukan tentang siapa yang paling banyak berbicara.
Komunikasi yang baik adalah ketika pesan tersampaikan, makna dipahami, dan hubungan tetap terjaga.
Bukankah praktik komunikasi ini sebenarnya tidak syuliiiit?
Cuma menantang, Kaaaak!

Komentar
Posting Komentar