REFILL QALBU

 Hari ini adalah haripertama libauta kampus nih, 

Alhamdulillah satu perjalan satu tahun akademik telah berlalu, setealah gatheting tgl 18-19 Agustus 2026 telah berhasil dilakukan dan alhamdulillah, saya berhasil inkut waluap dalam kondisi yanag sedang tidak fit 100%, tetapi ada niat satu di hati saya, engage, keersamaan ini yang memberikan saya nikmat kesaehatan dan keberkahan, walaupun sesi utam saya tidak all out.

Hari ini saya inging refleksi untuk disi , selama liburan di pagi hari agar saya lebih mengenal diri, maka tulisan ini saya beri judul IQ yakni Isi Qalbu


Ayat selanjutnya adalah QS ayat 3 ayat 9 dan 31

Baik. Ini bisa dijadikan pengantar sebelum masuk ke kajian berikutnya, dengan bahasa reflektif seperti sharing session Abu Marlo:

Sharing Abu Marlo — “Mengenal 5 Aku dalam Diri”

Dalam diri kita, sebenarnya ada “Aku” yang bertingkat. Kita sering mengatakan “aku”, tetapi sebenarnya perlu kita pahami: aku yang mana?

Dalam sharing ini, kita diajak mengenal 5 tingkatan “Aku”:

  1. Aku 1 — Allah SWT
    Allah adalah sumber segala kehidupan. Bukan berarti Allah menyatu dengan diri manusia, tetapi Allah adalah Zat yang menciptakan, menghidupkan, mengatur, dan menjadi tujuan akhir kehidupan kita. Dari sinilah kesadaran kita seharusnya dimulai: siapa Tuhan kita dan kepada siapa kita akan kembali?
  2. Aku 2 — Ruh
    Ruh adalah bagian dari kehidupan yang Allah berikan kepada manusia. Ruh menjadi dimensi yang menghubungkan manusia dengan kesadaran kepada Allah. Ketika ruh kita kuat, hati lebih mudah mengingat Allah dan menjalani kehidupan dengan kesadaran.
  3. Aku 3 — Jiwa
    Jiwa adalah ruang tempat munculnya keinginan, perasaan, pikiran, ego, dan berbagai dorongan dalam diri. Di sinilah terjadi pergulatan: antara keinginan untuk mengikuti kebaikan dan dorongan hawa nafsu.
  4. Aku 4 — Tubuh
    Tubuh adalah kendaraan kita di dunia. Tubuh membutuhkan makan, istirahat, kesehatan, dan aktivitas. Namun tubuh bukanlah keseluruhan diri kita. Tubuh hanya wadah yang digunakan untuk menjalankan amanah kehidupan.
  5. Aku 5 — Dunia Maya
    Di zaman sekarang, ada satu lagi “aku” yang semakin kuat: aku di dunia maya. Identitas digital, media sosial, foto, status, komentar, dan berbagai aktivitas kita di internet membentuk representasi diri kita di ruang digital.


Arah kajiannya adalah mengaitkan “Aku 1–5” dengan QS. Al-Kahf ayat 19 dan 31, maka fokusnya bukan bertanya “aku yang mana?”, tetapi bagaimana kelima lapisan diri tersebut diarahkan untuk mengaktifkan nilai/keteladanan Muhammad ﷺ dalam diri.

Saya sarankan narasinya seperti ini:

Pengantar Kajian: Mengaktifkan “Muhammada” dalam Diri

Dalam sharing Abu Marlo, kita diajak melihat bahwa di dalam kehidupan kita ada Aku 1 sampai Aku 5.

Aku 1 adalah Allah SWT, sumber segala kehidupan dan tujuan akhir penghambaan.
Aku 2 adalah ruh, yang menjadi dimensi kehidupan dan kesadaran batin.
Aku 3 adalah jiwa, tempat munculnya pikiran, perasaan, keinginan, dan dorongan diri.
Aku 4 adalah tubuh, kendaraan kita untuk menjalankan kehidupan dan amal.
Dan Aku 5 adalah dunia maya, yaitu ruang digital tempat kita hari ini juga menghadirkan dan merepresentasikan diri.

Kelima “Aku” ini kemudian kita coba hubungkan dengan QS. Al-Kahf ayat 19 dan ayat 31.

Pada QS. Al-Kahf ayat 19, kita menemukan gambaran tentang para penghuni gua yang dibangunkan setelah sekian lama. Mereka kemudian saling bertanya, menyadari keadaan mereka, mencari makanan yang baik, berhati-hati, dan menjaga diri. Ada proses kesadaran, kehati-hatian, kelembutan, dan tindakan yang tepat.

Sedangkan QS. Al-Kahf ayat 31 menggambarkan balasan bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh: surga ‘Adn, kenikmatan, pakaian yang baik, ketenteraman, dan sebaik-baik tempat beristirahat.

Dari sini kita masuk kepada satu pembahasan yang lebih dalam:

Bagaimana kita mengaktifkan “Muhammad” dalam diri kita?

“Muhammada” di sini kita pahami sebagai nilai-nilai ke-muhammad-an  yang harus hidup dalam diri—akhlak, kasih sayang, kejujuran, kelembutan, amanah, kesadaran kepada Allah, serta kemampuan membawa kebaikan dalam kehidupan.

Jadi, bukan hanya Aku 1 sampai Aku 5 yang kita kenali, tetapi bagaimana semuanya bergerak dalam satu kesadaran kemuhammadan.

Ruhnya sadar kepada Allah.
Jiwanya memiliki akhlak yang baik.
Tubuhnya bergerak dalam amal.
Kehidupannya membawa manfaat.
Dan bahkan dunia mayanya tetap mencerminkan nilai-nilai kebaikan tersebut.

Dengan demikian, “Muhammad” tidak berhenti sebagai sesuatu yang kita ucapkan atau kita kagumi, tetapi menjadi nilai yang kita hidupkan dalam diri.

Dan di sinilah kita mulai memahami bahwa mengingat Muhammad ﷺ bukan hanya melalui ucapan, tetapi melalui bagaimana sifat-sifat mulia yang beliau contohkan benar-benar hadir dalam cara kita berpikir, merasa, berbicara, bertindak, dan berinteraksi—baik di dunia nyata maupun di dunia maya.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

KANG ENCON RAHMAN, FROM ZERO TO HERO

DUA JAM BERSAMA CIKGU TERE, BUKAN GURU BIASA

Menjadi Talenta Tangguh Tema yang diangkat pada Engineering Computer Festifal Memperingati Hari Ulang Tahun Prodi DIII Teknik Komputer 2025